Dinas KPP Jabar Inisiasi Peternak Olah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik

Peluncuran pelepasan pemasaran perdana pupuk organik limbah kotoran hewan (Kohe) oleh Koperasi Peternakan Susu Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan pada Lembaga Sosial Pemerhati Lingkungan Hidup dan Kelestarian Alam “Leuwikeris Hejo” Ciamis di Kantor KPBS Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Foto: Hms Jabar)
Peluncuran pelepasan pemasaran perdana pupuk organik limbah kotoran hewan (Kohe) oleh Koperasi Peternakan Susu Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan pada Lembaga Sosial Pemerhati Lingkungan Hidup dan Kelestarian Alam “Leuwikeris Hejo” Ciamis di Kantor KPBS Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Foto: Hms Jabar)

BANDUNG, INFOPARLEMEN.COM – Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (KPP) Jawa Barat (Jabar) menginisiasi peternak sapi perah untuk mengelola kotoran sapi menjadi pupuk organik. Pengolahan kotoran sapi ini untuk menambah nilai ekonomi, sekaligus mengurangi pencemaran di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Inisiasi ini terwujud dalam peluncuran pelepasan pemasaran perdana pupuk organik limbah kotoran hewan (Kohe) oleh Koperasi Peternakan Susu Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan pada Lembaga Sosial Pemerhati Lingkungan Hidup dan Kelestarian Alam “Leuwikeris Hejo” Ciamis di Kantor KPBS Pangalengan, Kabupaten Bandung, Kamis (2/9/2021).

Kepala Dinas KPP Jabar Jafar Ismail mengatakan, Rencana Aksi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan (Renaksi PPK) DAS Citarum oleh Dinas KPP Jabar di antaranya pembinaan para peternak melalui fasilitasi pengolahan limbah Kohe menjadi pupuk organic. Pengolahan Kohe ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah pengendalian pencemaran dan kerusakan DAS Citarum.

Dijelaskan Jafar, berdasarkan hasil analisa tenaga ahli Pokja Limbah Peternakan pada Tahun 2020, beban pencemaran limbah peternakan ke Sungai Citarum dari Kabupaten Bandung, Bandung Barat dan Bekasi yaitu BOD 4.681,36 kg/hari; COD 11.460,01 kg/hr; Total N 24,55 kg/hr dan Total P 3,83 kg/hari. Beban pencemaran ini dapat berkurang dengan melakukan pengolahan limbah kotoran ternak menjadi pupuk organik, biogas atau vermikomposing.

Bacaan Lainnya

“Renaksi PPK DAS Citarum yang dilakukan oleh DKPP menindaklanjuti pelatihan dan bimbingan teknis pengolahan limbah kotoran hewan, revitalisasi bangunan pengolahan, fasilitasi sarana alat dan mesin pengolahan pupuk organik, pendampingan proses sertifikasi dan ijin edar pupuk organik. Pada bulan Maret 2021 telah diberikan bantuan sarana berupa mesin pengolah pupuk dan kendaraan roda 3 kepada KPBS Pangalengan dan KPSBU Lembang,” ungkap Jafar.

Menurutnya, melalui pemanfaatan teknologi, Kohe yang  biasa dibuang ke selokan atau sungai dilakukan pengolahan agar bermanfaat, memberikan nilai tambah usaha peternakan dan meningatkan pendapatan peternak yang akan menggerakan kewirausahaan bidang agrikultur yang berkelanjutan di Jabar.

“Salah satu kelompok yang telah berhasil melakukan pengolahan kotoran hewan menjadi pupuk organik dan telah memiliki pasar adalah Kelompok Taruna Mukti di Kabupaten Bandung yang telah memiliki Sertifikat Organik dan telah melakukan kerjasama pemasaran secara kontinu dengan Lembaga Sosial Pemerhati Lingkungan Hidup dan Kelestarian Alam “Leuwikeris Hejo” yang membutuhkan 3.500 ton pupuk organik per tahun,” kata Jafar.

Pengolahan pupuk organik tersebut direplikasi oleh para peternak anggota KPBS Pangalengan dan Koperasi Peternakan Susu Bandung Utara (KPSBU) Lembang. KPBS pun bekerja sama dengan Taruna Mukti untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik Leuwikeris Hejo.

“Melalui Launching Pemasaran Perdana Pupuk Organik KPBS Pangalengan ke Leuwikeris Hejo diharapkan dapat memotivasi para peternak untuk melakukan usaha pengolahan pupuk organik dan membuka peluang pasar bagi stake holder lainnya untuk dapat menyerap produksi pupuk organik limbah peternakan,” harapnya.

Selain  itu, Jafar mengharapkan kepada para memegang kebijakan baik di pusat maupun di daerah, perlu ada terobosan inovasi pengolahan Kohe menjadi biogas, pupuk cair dan padat untuk meningkatkan pendapatan peternak. Dengan demikian, tingkat pencemaran di DAS Citarum dapat terus berkurang, sehingga diharapkan dalam tiga tahun ke depan bebas dari pencemaran limbah peternakan.

Pada pengiriman perdana pupuk organik Kohe tersebut, KPBS mengirimkan 15 ton pupuk organik. Hadir secara virtual Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang melepas resmi pengiriman perdana tersebut.

Selain itu, hadir juga langsung Bupati Bandung Dadang Supriatna, Kepala Dinas KPP Jabar Jafar Ismail, Direktur UMKM bjb Jawa Barat dan Pimpinan bjb  Kabupaten Bandung serta Komandan Sektor 21 Satgas Citarum Harum Kol. Arm Nursamsudin. (Gin Su)

Pos terkait