Balai Benih Ikan Lokal Singgamanik merupakan Balai Benih tempat pembelian benih Ikan Nila di Kabupaten Karo.
Karo, Infoparlemen.com – MANINDU (Maskulinasi Ikan Nila Dengan Madu) merupakan inovasi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karo.
Balai Benih Ikan (BBI) Lokal Singgamanik merupakan Balai Benih tempat pembelian benih Ikan Nila di Kabupaten Karo.
BBI Singgamanik selama ini hanya menjual benih ikan tanpa perlakuan monosex ikan setiap penjualan karena untuk mendapatkan benih monosex terutama monosex variasi jantan biasanya dilakukan dengan perlakukan hormon sintetis seperti metil testoteron.
Namun penggunaan hormon methil testoteron sudah dilarang sesuai dengan Peraturan Menteri Perubahan atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/PERMENKP/2019 tentang Obat Ikan.
Permasalahan berbudidaya ikan yaitu lambatnya pertumbuhan budidaya ikan Nila serta tingginya harga pakan sehingga membuat biaya produksi budidaya ikan nila semakin tinggi dapat diatasi dengan maskulinisasi pada benih ikan nila yang akan dipelihara.
Teknik perendaman dengan madu merupakan teknik yang sukses diterapkan dalam alih kelamin terutama pada embrio atau tahap pascatetas.
Salah satu bahan alternatif yang berpotensi sebagai pengganti hormon sintetik adalah madu . Madu mengandung chrysin yang menghambat kerja aromatase inhibitor untuk menurunkan konsentrasi estrogen sehingga mengakibatkan produksi hormon testosteron meningkat dan sifat-sifat jantan menjadi dominan.
Penggunaan madu dapat digunakan bagi pembudidaya ikan nila dalam kegiatan maskulinisasi karena bahan aktif alami yang dapat mengurangi dampak penggunaan hormon sintetis terhadap fisiologis ikan dan lingkungan.
Adapun prosedur dalam inovasi ini yaitu Maskulinisasi dilakukan menggunakan bahan alami yakni madu sebagai bahan perendaman;Menggunakan benih ikan usia 5-7 hari; kemudian Melakukan perendaman dengan waktu yang berbeda yaitu 12 jam, 14 jam dan 16 jam dengan konsentrasi perendaman yang sama yakni 15 ml/liter air.
Perlakuan dilakukan dengan 2 kali ulangan dengan 1 kontrol pada kegiatan inovasi;Alat dan bahan serta prosedur teknis yang digunakan yaitu: Menggunakan 7 aerator sebagai supply oksigen;Melakukan pemeliharan benih selama 30 hari setelah masa perendaman; dan Melakukan pengecekan jenis kelamin ikan setalah masa pemeliharaan selama 30 hari;
Adapun keunggulan dari inovasi ini yaitu penggunaan bahan alami yang mudah didapatkan dan tidak gampang terkontaminasi, Penerapan yang mudah dan efektivitas peralihan jenis kelamin yang cepat sehingga siklus produksi budidaya ikan nila dapat dilakukan dengan cepat dan permintaan pembelian benih ikan di BBI akan semakin meningkat selain itu sikus budidaya ikan yang lebih cepat akan menguntungkan pembudidaya sehingga sehingga peningkatan pendapatan masyarakat dapat tercapai.
Uji coba inovasi ini dilakukan di Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Karo dan penerapan inovasi ini dilakukan di BBI Lokal Singgamanik.
Pada ikan nila yang tidak dilakukan perlakuan perendaman dengan madu, rata rata jenis kelamin jantan sebesar +-64%, sedangkan pada inovasi MANINDU yang dilakukan perendaman ikan nila dengan 15 ml/L madu selama 14 jam, didapatkan peningkatan jenis kelamin jantan sebesar 22%, sehingga jenis kelamin ikan yang sudah diberikan perlakuan menjadi 86% jantan.



