Kaderisasi BEM PTNU Menghadapi Tantangan 5.0

Kongres Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU). (Foto: Ist)

BANDUNG, INFOPARLEMEN.COMKaderisasi hakikatnya merupakan upaya pengembangan sumber daya manusia berorientasi pada pengenalan diri secara terpadu antara aspek objektivitas dan subyektivitas.

Demikian juga kaderisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) menjunjung pengembangan aspek obyektivitas para aktivis nahdliyin dalam membangkitkan semangat melawan dan mengubah keadaan yang tidak diinginkan menjadi realitas yang diharapkan.

Dalam hasil Kongres Nasional BEM PTNU, Rabu (16/03/2022) yang dihadiri para presiden BEM dan beberapa perwakilan aktivis muda nahdliyin  tergabung sebanyak 200 lebih perserta, terpilih Presnas Al Fajri dari BEM Unhasy Jombang sebagai mandataris atau nahkoda baru BEM PTNU.

Wahyu Al-Fajr berasal dari kampus Universitas KH M Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng, Kabupaten Jombang. Ia mengatakan,  “BEM PTNU se-Nusantara ke depan harus punya kontribusi yang besar dalam pergerakan mahasiswa.

Bacaan Lainnya

Diakuinya, BEM ini sebelumnya mengalami stagnasi. Kondisi semacam ini tidak boleh lagi terjadi. Yang paling penting saat ini ialah bangkit kembali gerakan mahasiswa Nahdliyin,” ungkapnya. 

Lebih lanjut ia menegaskan, mahasiswa harus peka dengan realitas yang ada di sekitarnya. Ia mengakui, banyak pekerjaan rumah untuk BEM PTNU hari ini dan ke depan, mengingat tidak sedikit isu yang perlu disikapi oleh mahasiswa NU. “Selain kita responsif terhadap isu-isu yang beredar, kita juga harus objektif,” jelasnya.

Dalam acara kongres nasional tersebut, para presnas ikut mengawal jalannya Kongres. Presnas Umar salah satunya mengatakan, “BEM PTNU hadir Tentu bagi para aktivis muda diperlukan pemahaman yang matang ihwal Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam segala perspektifnya. Baik dalam terminologis, latar historis, ideologi, pemikiran dan konsep-konsep yang dibangun untuk memahami segala aspek dan bergerak dengan percaya diri sebagai aktivis muda Nu” tandsanya.

Salah satu demisioner Jawa Barat Presnas Dhohir juga menjelaskan, “Pada konteks saat ini, Aswaja tidak hanya dimaknai sebagai ajaran teologis semata, karena problem yang dihadapi oleh para kader milenial ini tidak semudah periode Islam terdahulu. Sehingga Aswaja dapat ditransformasikan ke dalam aspek ekonomi, politik dan sosial. Pemaknaan seperti ini berangkat dari kesadaran akan kompleksitas masalah saat ini yang tidak hanya membutuhkan solusi bersifat konkret, akan tetapi lebih pada solusi yang sifatnya metodologis.”

Muhammad Nabil atau biasa disapa Billy berasal dari kampus Universitas Wahid Hasyim Semarang mengatakan, “Saya sangat bersyukur bisa bersilaturahmi bersama Kader-kader muda aswaja yang transformatif dan inovatif ini.”

“Kami semua merumuskan dan berharap BEM PTNU hadir sebagai representasi dari wajah baru aktivis milenial yang visioner dan progresif untuk bergerak menjunjung tinggi asas Aswaja dan nilai-nilai kebangsaan di setiap lingkungan kampus Nahdlatul Ulama agar para aktivis nahdliyin bisa siap bangkit dan bersaing melawan tantangan zaman digital 5.0,” ujar Billy sebagai Wapresnas yang dipilih langsung oleh Presnas baru.

“Aswaja hadir di kalangan generasi milenial ini di bawah naungan LPTNU, para presnas demisioner tetep siap mengawal arah gerak BEM PTNU menghadapi  tantangan zaman yang ada. Artinya pemahaman keagamaan yang berkembang di dalam lingkungan kader BEM PTNU justru melampaui batas-batas pemahaman pesantren. Hal ini karena basis masyarakat BEM PTNU adalah mahasiswa, yang mana studi-studi di kampus dituntut untuk lebih dinamis berkembang sesuai konteks situasi kondisi masyarakat yang berkembang,” ujar Cak Dien selaku Presnas Jawa Tengah dan DIY. (Inpar)

Pos terkait